BELAJAR DI RUMAH = MEMINDAHKAN SEKOLAH KE RUMAH...???
Dari ratusan,
bahkan mungkin ribuan postingan tentang Belajar di Rumah karena kasus Corona
ini tampak jelas bahwa sebagian besar memaknai bahwa belajar di rumah ini
dimaknai sebagai memindahkan sekolah ke rumah. Tentu saja banyak peristiwa lucu
bahkan ceritera horor terungkap akibat masyarakat memaknainya sebagai
memindahkan sekolah ke rumah, Hal ini gampang dipahami karena setting sekolah
dan rumah dalam keseharian sangat berbeda. Tidak heran juga banyak orang tua
yang stress khususnya yang putranya masih SD kelas rendah dan PAUD. Anak yang
terbiasa dengan setting belajar di kelas tidak dapat dengan setting rumah dalam
keseharian sebagai setting belajar menjadi rewel dan malas belajar. Belum lagi
pengetahuan, kemampuan dan ketrampilan orang tua dalam mendidik anak secara
pedagogis juga beragam. Ini menjadikan orang tua menjadi tidak sabaran sampai
ustadz Kang Khoiri Emhaka dalam Penelitian Tindakan Rumahnya menyimpulkan bahwa
sang anak menyimpulkan bu guru di rumah lebih galak daripada bu guru di sekolah.
Menurut Nafik
Naff. Anak-anak milenial dibesarkan dengan tugas perkembangan “hanya” untuk
belajar dan belajar. Karena itu seluruh waktu anak dari pagi sampai sore,
bahkan banyak yang sampai malam adalah untuk belajar. Setelah pulang dari
sekolah, lanjut ke berbagai bimbel dan kursus/sanggar, terus malamnya masih mengerjakan
PR sekolah. Yang menarik dari kunjungan beliau ke TK Hidayatullah yang
benar-benar mewah karena memang segmen sasarannya adalah kelas menengah ke
atas, adalah saat anak-anak selesai makan siang, mereka secara beregu
bergiliran membereskan sampai mencuci piring dan peralatan makannya. Waktu
beliau tanya ke Bu Suci, kepala sekolahnya, kenapa anak-anak mencuci sendiri
piring dan peralatan makannya padahal di rumah mereka pasti punya pembantu
tidak hanya satu. Jawaban kepala sekolah benar-benar membuka mata beliau, yaitu
agar anak-anak dengan mengerjakan pekerjaan di rumah yang biasanya dikerjakan
oleh pembantunya adalah agar anak-anak bisa menghargai pembantunya, tidak
mengganggap hanya sebagai pembantu yang bisa disuruh-suruh.
Dalam hal ini
TK Hidayatullah membawa rumah ke sekolah, membawa kehidupan keseharian ke
sekolah. Kedua, bahwa cuci piring dan sebagainya itu bukan sebagai belajar
sehingga perlu adanya pengubahan mind setting kita tentang belajar. Ketiga
beliau teringat pada obrolan dengan guru panutan Bapak Kyai Abdullah Sam,
Pengembang Pesantren Rakyat saat berkenan menyambangi di rumahnya,
tentang sekolah kehidupan di Pesantren Rakyat. Beliau menugaskan santrinya di
Pesantren Rakyat yang juga belajar di SMP di pondok itu untuk belajar di rumah.
sebelum ada mbak Corona merebak menebar pesona. Namun, tugas dikembalikan ke
orangtua untuk belajar di rumah ini bukan bermakna anak dihukum karena
melakukan kesalahan, yang biasanya istilah penghaluskan anak dikeluarkan dari
sekolah. Yang menarik ide dari bapak Kyai Abdullah Sam ini adalah agar anak
belajar kehidupan di tempat anak yang ditugaskan. Seorang anak yang bapaknya
punya toko di pasar juga dikembalikan ke orangtuanya, ditugasi mengamati,
mencatat dan melihat apa saja yang terjadi di toko sejak buka sampai tutup,
bahkan sampai pada kiat-kiat ayahnya dalam berusaha yang semula dirahasiakan
oleh ayahnya. Setelah selesai anak menceriterakan pengalamannya di depan
teman-temannya di kelas.
Hasil ikutan yang merupakan “hidden
curriculum” pembelajaran ini dilaporkan ayahnya kepada Pak Kyai bahwa setelah
itu anaknya lebih perhatian pada usaha ayahnya dan menjadi sering membantu di
toko. Anak yang lain, ditugaskan ikut pada ahli kitab kuning, pendekar pencak
silat, service n counter hp dan sebagainya. Semua anak menjadi lebih memahami
kehidupan keseharian secara nyata, dan menurut pak Kyai, beliau tidak khawatir
ada serbuan tenaga asing dari luar, persaingan tenaga kerja karena anak-anak
sudah siap untuk hidup dalam masyarakat dalam kondisi apapun, karena mereka
telah memahami makna kehidupan nyata dalam keseharian.
Dari ratusan,
bahkan mungkin ribuan postingan tentang Belajar di Rumah karena kasus Corona
ini tampak jelas bahwa sebagian besar memaknai bahwa belajar di rumah ini
dimaknai sebagai memindahkan sekolah ke rumah. Tentu saja banyak peristiwa lucu
bahkan ceritera horor terungkap akibat masyarakat memaknainya sebagai
memindahkan sekolah ke rumah, Hal ini gampang dipahami karena setting sekolah
dan rumah dalam keseharian sangat berbeda. Tidak heran juga banyak orang tua
yang stress khususnya yang putranya masih SD kelas rendah dan PAUD. Anak yang
terbiasa dengan setting belajar di kelas tidak dapat dengan setting rumah dalam
keseharian sebagai setting belajar menjadi rewel dan malas belajar. Belum lagi
pengetahuan, kemampuan dan ketrampilan orang tua dalam mendidik anak secara
pedagogis juga beragam. Ini menjadikan orang tua menjadi tidak sabaran sampai
ustadz Kang Khoiri Emhaka dalam Penelitian Tindakan Rumahnya menyimpulkan bahwa
sang anak menyimpulkan bu guru di rumah lebih galak daripada bu guru di sekolah.
Menurut Nafik
Naff. Anak-anak milenial dibesarkan dengan tugas perkembangan “hanya” untuk
belajar dan belajar. Karena itu seluruh waktu anak dari pagi sampai sore,
bahkan banyak yang sampai malam adalah untuk belajar. Setelah pulang dari
sekolah, lanjut ke berbagai bimbel dan kursus/sanggar, terus malamnya masih mengerjakan
PR sekolah. Yang menarik dari kunjungan beliau ke TK Hidayatullah yang
benar-benar mewah karena memang segmen sasarannya adalah kelas menengah ke
atas, adalah saat anak-anak selesai makan siang, mereka secara beregu
bergiliran membereskan sampai mencuci piring dan peralatan makannya. Waktu
beliau tanya ke Bu Suci, kepala sekolahnya, kenapa anak-anak mencuci sendiri
piring dan peralatan makannya padahal di rumah mereka pasti punya pembantu
tidak hanya satu. Jawaban kepala sekolah benar-benar membuka mata beliau, yaitu
agar anak-anak dengan mengerjakan pekerjaan di rumah yang biasanya dikerjakan
oleh pembantunya adalah agar anak-anak bisa menghargai pembantunya, tidak
mengganggap hanya sebagai pembantu yang bisa disuruh-suruh.
Dalam hal ini
TK Hidayatullah membawa rumah ke sekolah, membawa kehidupan keseharian ke
sekolah. Kedua, bahwa cuci piring dan sebagainya itu bukan sebagai belajar
sehingga perlu adanya pengubahan mind setting kita tentang belajar. Ketiga
beliau teringat pada obrolan dengan guru panutan Bapak Kyai Abdullah Sam,
Pengembang Pesantren Rakyat saat berkenan menyambangi di rumahnya,
tentang sekolah kehidupan di Pesantren Rakyat. Beliau menugaskan santrinya di
Pesantren Rakyat yang juga belajar di SMP di pondok itu untuk belajar di rumah.
sebelum ada mbak Corona merebak menebar pesona. Namun, tugas dikembalikan ke
orangtua untuk belajar di rumah ini bukan bermakna anak dihukum karena
melakukan kesalahan, yang biasanya istilah penghaluskan anak dikeluarkan dari
sekolah. Yang menarik ide dari bapak Kyai Abdullah Sam ini adalah agar anak
belajar kehidupan di tempat anak yang ditugaskan. Seorang anak yang bapaknya
punya toko di pasar juga dikembalikan ke orangtuanya, ditugasi mengamati,
mencatat dan melihat apa saja yang terjadi di toko sejak buka sampai tutup,
bahkan sampai pada kiat-kiat ayahnya dalam berusaha yang semula dirahasiakan
oleh ayahnya. Setelah selesai anak menceriterakan pengalamannya di depan
teman-temannya di kelas.
Hasil ikutan yang merupakan “hidden
curriculum” pembelajaran ini dilaporkan ayahnya kepada Pak Kyai bahwa setelah
itu anaknya lebih perhatian pada usaha ayahnya dan menjadi sering membantu di
toko. Anak yang lain, ditugaskan ikut pada ahli kitab kuning, pendekar pencak
silat, service n counter hp dan sebagainya. Semua anak menjadi lebih memahami
kehidupan keseharian secara nyata, dan menurut pak Kyai, beliau tidak khawatir
ada serbuan tenaga asing dari luar, persaingan tenaga kerja karena anak-anak
sudah siap untuk hidup dalam masyarakat dalam kondisi apapun, karena mereka
telah memahami makna kehidupan nyata dalam keseharian.

Komentar