Puasa dan Pesannya bagi Kesalehan Sosial
Puasa dan Pesannya
bagi Kesalehan Sosial
![]() |
| Add caption |
Menurut Annisa
Nurul Hasanah Ibadah tidak hanya berhubungan dengan Allah swt, tetapi sangat
berkaitan dengan relasi sesama manusia. Dalam beberapa hadis ditemukan bahwa
keimanan seringkali dikaitkan dengan kesantunan dan etika terhadap orang lain,
seperti menyambung silaturahim dan menghormati tamu. Ini menandakan Islam
bukanlah agama individual dan memisahkan pemeluknya dari kehidupan sosial.
Islam sangat mengerti bila seorang manusia mesti saling membantu antara satu
sama lainnya. Itulah mengapa hampir semua ibadah di dalam Islam memiliki
pengaruh positif terhadap masyarakat. Maksudnya, yang merasakan dampak baik
dari ibadah tersebut bukan hanya pelakunya sendiri, tetapi seluruh masyarakat,
bahkan binatang dan tumbuhan sekalipun.
Syeikh Abdul Qadir al-Jilani mengatakan, “Jika
kamu menyukai makanan enak, pakaian bagus, rumah mewah, wanita cantik, dan
harta berlimpah, sementara pada saat yang sama kamu menginginkan agar saudara
seimanmu mendapatkan kebalikannya, maka sunggu bohong bila mengaku memiliki
iman yang sempurna”. Pernyataan ini merupakan kritik tajam terhadap kaum
beriman yang apatis. Pada umumnya ibadah dapat dibagi menjadi dua: ibadah
individual dan ibadah sosial. Ibadah individual sangatlah personal dan
berhubungan dengan Tuhan secara langsung, semisal shalat, puasa, dan haji.
Sementara ibadah sosial berkaitan langsung dengan masyarakat, misalnya membantu
fakir miskin, sedekah, dan lain-lain. Namun sesungguhnya, dalam ibadah
individual sekalipun, dimensi sosialnya masih tetap ada. Sebut saja shalat,
memang tidak ada yang tahu tujuan shalat secara spesifik. Terutama alasan
mengapa jumlah raka’at shalat dibatasi dan tidak boleh ditambah dan dikurangi.
Akan tetapi, tujuan umum shalat masih dapat dirasionalkan dan dipahami melalui
penjelasan al-Qur’an dan hadis.
Dalam
al-Qur’an disebutkan bahwa shalat mencegah perbuatan keji dan munkar (QS:
Al-‘Ankabut: 45). Artinya, shalat memberikan dampak positif terhadap perilaku
seorang. Bila seorang mampu menahan dirinya dari mengerjakan kemungkaran, otomatis
akan menyelamatkan orang lain dari kezaliman dan kemungkaran. Andaikan seluruh
masyarakat shalatnya benar, maka seharusnya kemungkaran di bumi ini sudah tidak
ada lagi. Sama halnya dengan puasa, bila dicermati banyak dimensi sosial yang
terkandung di dalamnya. Seringkali dikatakan bahwa dengan berpuasa kita bisa
mengerti betapa laparnya orang miskin. Mereka tidak cukup uang untuk memenuhi
kebutuhannya. Bila kita hanya menahan lapar dari terbit fajar sampai terbenam
matahari, bisa jadi tetangga kita yang miskin tidak makan seharian penuh atau
lebih. Melalui puasa kita seharusnya bisa mengerti dan berusaha membantu orang-orang
miskin. Selain menumbuhkan rasa empati dan simpati, puasa sebenarnya juga dapat
meredam kemungkaran sosial. Kerapkali kezaliman dan kejahatan di dunia ini
terjadi karena keserakan dan ketamakan manusia. Lihatlah koruptor, pemerkosa,
dan pembakar hutan, mereka melakukan itu karena memang sudah tidak mampu lagi
mengendalikan nafsu keserakahan di dalam dirinya. Akibatnya, luapan nafsunya
merusak dan menganggu kenyamanan hidup orang lain.
‘Ali bin Abi Thalib mengatakan, “Anak Adam
dapat binasa karena dua anggota tubuh: perut dan kemaluan. Perkatan ‘Ali ini
didukung oleh hadis riwayat Abu Hurairah bahwa suatu kali Nabi saw. pernah
ditanya tentang faktor apa yang membuat
orang banyak masuk surga. Nabi SAW menjawab, “Taqwa dan akhlak yang bagus.”
Kemudian Nabi ditanya lagi, apa yang menyembabkan banyak orang masuk neraka?
“Dua anggota tubuh: perut dan kemaluan” Jawab Nabi (HR: Ibn Majah). Pernyataan
Nabi ini sangat benar dan sudah teruji kebenarannya. Ada banyak kerusakan yang
disebabkan dua anggota tubuh ini. Sebagian besar kemungkaran terjadi karena
manusia tidak mampu membendung hasrat perut dan kemaluannya. Ia tidak mampu
mengontrol kuatnya dorongan negatif dari dalam perut dan kemaluannya. Sehingga,
ketidakmampuan itu mendorong mereka untuk melakukan kejahatan dan merusak
kehidupan orang lain.
Harus diakui,
mengendalikan nafsu memang tidak mudah. Dibutuhkan latihan maksimal untuk
mengontrolnya. Puasa merupakan waktu terbaik untuk mengendalikan nafsu liar.
Tampaknya itulah tujuan utama puasa, yakni pengendalian hawa nafsu. Bila nafsu
manusia sudah stabil, secara tidak langsung kehidupan masyarakat akan terjamin
kenyamanannya. Akan sangat percuma bila puasa hanya sekedar menahan haus dan
lapar saja, tapi maksiat dan hawa nafsunya tidak pernah dikontrol. Karenanya,
jangan terjebak pada bentuk formal ibadah, tapi pahami, dalami, dan amalkan
pula.

Komentar