SOSOK GURU ABAD KE-21

Add caption

SOSOK GURU ABAD KE-21
Bacaan buku yang berjudul mengangkat citra dan martabat guru memikat saya belakangan ini. Adalah buku dari Dr. Dedi Supriadi beliau adalah dosen IKIP Bandung pada tahun 1993. Kita cuplik beberapa bagian yang relevan dengan tantangan guru masa kini dan mendatang. Di Negara manapun, guru diakui sebagai suatu prosfesi. Guru diagungkan, disanjung, dikagumi, karena perannya yang sangat penting. Namun perang ini, menurut Gerstner akan berubah dimasa depan, yakni abad ke-21. Perubahan berpusar pada pola relasi antara guru dengan lingkungannya, dengan sesama guru, dengan  siswa, dengan orang tua, dengan kepala sekolah, dengan teknologi, dan dengan karirnya sendiri. Guru akan lebih tampil tidak lagi sebagai “pengajar” (teacher) seperti menonkol fungsinya selama ini, melainkan sebagai, pelatih, konselor, manajer belajar, partisipan, pemimpin dan pelajar.
Sebagai pelatih, guru masa depan akan berperan ibarat pelatih olahraga. Ia akan lebih banyak membantu siswa dalam permainan. Bedannya, permainan itu adalah belajar (game of learning). Sebagai pelatih, guru mendorong siswanya untuk menguasai alat belajar, memotivasi siswa untuk bekerja keras, bekerja sama dengan siswa, membantu siswa menhargai nilai.
Sebagai konselor, guru akan menjadi sahabat siswa, teladan dalam pribadi yang mengundang rasa hormat, struktur kelas, letak meja dan kursi yang sering menjadi penhambat psikologi antara keduanya akan pecah. Maka tercipta apa yang di sebut “sekolah dalam sekolah”(school-within school), di mana siswa belajar dalam kelompok-kelompok kecil di bawah bimbingan guru.
Sebagai manajer belajar, guru akan bertindak ibarat manajer perusahaan. Ia membimbing siswanya belajar, mengeluarkan ide-ide terbaik yang dimilikinya. Namu di pihak lain, ia merupakan bagian dari siswa, ikut belajar bersama mereka sebagai pelajar.
Begitulah, sosok guru diproyeksikan ibarat seorang “suci” yang bisa melakukan segalanya. Tapi, apa kata Stevenson dan Stigler mengenai guru yang “wuah” di Amerika itu ? apa yang di bentangkan oleh Gerstner tentu guru dalam konteks pendidikan di Amerika. Dan entah kebetulan atau tidak, sosok guru kita juga sering digambarkan seperti itu. Jauh sejak mulai belajar ilmu keguruan, para calon guru kita sudah tahu bahwa mereka dituntut untuk memainkan peran yang teramat banyak itu, meskipun lebih sering merupakan retorika daripada fakta.

Komentar

Postingan populer dari blog ini