Coronavirus Covid-19 dalam pembelajaran Pendidikan Islam
![]() |
| Add caption |
Coronavirus Covid-19 dalam pembelajaran Pendidikan
Islam
Tulisan ini terinspirasi dari pertanyaan
sahabat saya Syamsu Alam, meski nada becanda akan tetapi selalu terpikirkan
dalam benak saya untuk mencari jawaban dan pertayaan tersebut, dari hasil
bacaan saya dari tulisan Dosen FAI UIKA Bogor.
Untuk menjawab marilah kita simak tulisan di
bawah ini.
Sebagai
orang yang beriman dengan memahami pendidikan Islam dalam menghadapi
Coronavirus Covid-19, yang merupakan virus yang pertama kali ditemukan di Wuhan
Cina pada Desember 2019. Kita semua dapat bertafakkur (berfikir untuk
memotivasi) juga dengan kisah yang pernah terjadi saat zaman kekhalifahan Umar
bin Khattab, dimana pada zaman pemerintahan beliau ini pernah terjadi wabah
yang bermula di daerah Awamas, sebuah kota sebelah barat Yerussalem, Palestina, .
Di dalam
buku biografi Umar bin Khattab karya Muhammad Husein Haekal menjelaskan, wabah
tersebut menjalar hingga ke Syam (Suriah), bahkan ke Irak. Diperkirakan
kejadian wabah ini akhir 17 Hijriah, dan memicu kepanikan massal saat itu. Di
dalam sebuah hadis yang di sampaikan Abdurrahman bin Auf mengenai sabda Nabi
SAW:
“Apabila kalian mendengar wabah tha’un melanda
suatu negeri, maka janganlah kalian memasukinya. Adapun apabila penyakit itu
melanda suatu negeri sedang kalian kalian di dalamnya, maka janganlah kalian
lari keluar dari negeri itu.” (Muttafaqun ‘alaihi, HR. Bukhari &
Muslim).
Pada
akhirnya wabah tersebut berhenti ketika sahabat Amr bin Ash ra memimpin Syam.
Kecerdasan beliau-lah dan dengan ijin Allah Swt yang menyelamatkan Syam. Amr
bin Ash berkata:
“Wahai sekalian manusia, penyakit ini menyebar
layaknya kobaran api. Maka hendaklah berlindung dari penyakit ini ke
bukit-bukit!”. Saat itu seluruh warga mengikuti anjurannya. Amr bin Ash dan
para pengungsi terus bertahan di dataran-dataran tinggi hingga sebaran wabah
Amawas mereda dan hilang sama sekali.
Dari
kisah di atas kita semua dapat belajar dari orang-orang terbaik bersikap, dan
juga yang telah di contohkan oleh Rasulullah Saw. Apa yang dapat kita ambil
ibrah atau pembelajarannya adalah:
Pertama, karantina sebagaimana sabda
Rasulullah saw diatas, itulah konsep karantina yang hari ini kita kenal.
Mengisolasi daerah yang terkena wabah, adalah sebuah tindakan yang tepat. Kita
bisa melihat dari sebuah penjelasan dibawah ini, bersumber dari harian WashingtonPost.
Keterangan bebasnya dapat diartikan sebagai berikut.
Keterangan bebasnya dapat diartikan sebagai berikut.
1.Orang
bergerak bebas, dimana orang menularkan corona secara bersamaan.
2. Dilakukan lockdown, sehingga ada waktu untuk bisa melakukan penyembuhan secara bertahap.
3. Dilakukan “social distancing”, dengan berdiam diri di rumah dan mengurangi berbagai kegiatan sementara waktu.
4. Selanjutnya dilakukan dengan sangat extreme, dengan melakukan jam malam dan sangat ketat, untuk tidak keluar rumah bahkan diberikan jam waktu.
2. Dilakukan lockdown, sehingga ada waktu untuk bisa melakukan penyembuhan secara bertahap.
3. Dilakukan “social distancing”, dengan berdiam diri di rumah dan mengurangi berbagai kegiatan sementara waktu.
4. Selanjutnya dilakukan dengan sangat extreme, dengan melakukan jam malam dan sangat ketat, untuk tidak keluar rumah bahkan diberikan jam waktu.
Kedua, bersabar. Di dalam sebuah hadis riwayat Imam Bukhari diceritakan, suatu kali Aisyah
bertanya kepada Nabi saw tentang wabah penyakit. Rasulullah saw bersabda,
“Wabah penyakit itu adalah orang-orang yang DIA kehendaki. Allah menjadikannya
sebagai rahmat bagi orang-orang yang beriman. Jika terjadi suatu wabah
penyakit, ada orang yang menetap di negerinya, ia bersabar, hanya berharap
balasan dari Allah Swt. Ia yakin tidak ada peristiwa yang terjadi kecuali sudah
ditetapkan Allah. Maka, ia mendapat balasan seperti mati syahid.”
Ketiga, berbaik sangka dan
berikhtiarlah. Karena Rasulullah saw bersabda:
Tidaklah
Allah swt menurunkan suatu penyakit kecuali Dia juga yang menurunkan
penawarnya. (HR. Bukhari).
Dalam
kisah Umar bin Khattab berikhtiar menghindarinya, serta Amr bin Ash berikhtiar
menghapusnya. Istilah saat ini dan sedang kita lakukan adalah melakukan “social
distancing”, dilansir dari The Atlantic, tindakan yang bertujuan untuk
mencegah orang sakit melakukan kontak dalam jarak dekat dengan orang lain untuk
mengurangi peluang penularan virus. Artinya juga sementara waktu menjauhi
perkumpulan, menghindari pertemuan massal, dan menajga jarak antar manusia.
Keempat, banyak berdoalah. Perbanyak
do’a-do’a keselamatan, salah satu contohnya yang sudah diajarkan Rasulullah Saw
untuk di lafadzkan di setiap pagi dan sore berikut ini:
“Bismillahilladzi
laa yadhurru maasmihi, say'un fil ardhi walafissamaai wahuwa samiul'alim”.
Artinya:
“Dengan nama Allah yang apabila disebut, segala sesuatu dibumi dan langit tidak berbahaya. Dialah maha mendengar dan maha mengetahui).
“Dengan nama Allah yang apabila disebut, segala sesuatu dibumi dan langit tidak berbahaya. Dialah maha mendengar dan maha mengetahui).
Barang siapa yang membaca dzikir tersebut 3x
dipagi dan petang. Maka tidak akan ada bahaya yang memudharatkannya. (HR. Abu
Dawud dan Tirmidzi)
Walaupun belum ditemukan penelitian secara ilmiahnya, namun logikanya secara sederhana bisa kita perhatikan pada orang yang jauh dari Allah Swt, biasanya mudah mengalami stress, pada kondisi stress hormon yang bekerja adalah adrenalin, norepinephrine dan kortisol. Hormon stress akan menyebabkan asam lambung naik, sistem imun turun, sehinggag mudah terkena penyakit. Sebaliknya pada oang-orang yang beriman dan tawakal, hormon oxytocin bekerja lebih baik, sehingga akan menghasilkan endorphin yang tinggi yang menimbulkan kedamaian, ketenangan sehingga sistem imun tubuh menjadi lebih kuat.
Walaupun belum ditemukan penelitian secara ilmiahnya, namun logikanya secara sederhana bisa kita perhatikan pada orang yang jauh dari Allah Swt, biasanya mudah mengalami stress, pada kondisi stress hormon yang bekerja adalah adrenalin, norepinephrine dan kortisol. Hormon stress akan menyebabkan asam lambung naik, sistem imun turun, sehinggag mudah terkena penyakit. Sebaliknya pada oang-orang yang beriman dan tawakal, hormon oxytocin bekerja lebih baik, sehingga akan menghasilkan endorphin yang tinggi yang menimbulkan kedamaian, ketenangan sehingga sistem imun tubuh menjadi lebih kuat.
Terkait dengan wabah coronavirus covid 19 ini,
sebagai seorang mu’min, maka sebaiknya selain melakukan juga ikhtiar karantina
atau “social distancing” ini, maka tingkatkan juga spiritual kita. Jika dapat
bertafakkur lebih jauh, sebagai muslim semua wabah ini adalah sebuah rahmatNYA,
sebuah peringgatan bagi yang berpikir, untuk terus menjadikannya sebagai
wasilah atau jalan untuk terus banyak mendekatkan diri kepada Allah Swt,
sehingga ketika tingkat kepasrahan tinggi maka akan dirasakan ketenangan dan
dengan segala usaha dan do’a

Komentar